ASPEK-ASPEK PSIKOLOGIS PEMBELAJAR BAHASA ASING
Oleh: Firdaus, S.Pd.I,M.Pd.I*
Pembelajaran menurut Hamalik
(2008:57) adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur- unsur manusiawi,
material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi
mencapai tujuan pembelajaran. Dengan demikian dapat diambil pengertian bahwa
pembelajaran bahasa asing adalah kombinasi dari berbagai unsur yang telah
disebutkan tadi untuk mencapai kemahiran- kamahiran berbahasa yang meliputi
kemahiran mendengar, berbicara, membaca dan menulis.
Beberapa catatan yang dapat
diperhatikan dari berbagai unsur- unsur pembelajaran adalah unsur manusiawi
yang di dalamnya terdapat aspek- aspek psikologis dari para pembelajar bahasa
asing diantaranya adalah: tipe pembelajar bahasa, gaya kognitif siswa, Sikap
belajar siswa, modalitas siswa, Kepribadian pembelajar, dan motivasi siswa.
A. Tipe
Pembelajar Bahasa
Tarigan
(2006:159-160) menyebutkan ada empat tipe pembelajar bahasa, yaitu:
1. Pembelajar
konkret
Para pembelajar ini lebih
menyukai pembelajaran dengan permainan, gambar, film dan video, berbicara
berpasangan, pembelajaran melalui penggunaan kaset dan pergi berdarmawisata.
2. Pembelajar
analitis
Para pembelajar ini suka menelaah
tata bahasa, menelaah buku- buku bahasa Inggris, studi sendirian, menemukan
kesalahan- kesalahan mereka, mempunyai masalah yang akan dipecahkan, belajar
melalui pembacaan koran- koran.
3. Pembelajar
komunikatif
Kelompok ini menyukai belajar
dengan mengamati dan menyimak pada penutur asli, berbicara dengan teman teman
dalam bahasa Inggris, menggunakan bahasa Inggris di toko- toko dan sebagainya,
belajar kata- kata Inggris dengan cara mendengarkannya, dan belajar dengan
percakapan- percakapan.
4. Pembelajar
yang berorientasi pada otoritas.
Para pembelajar ini menyukai sang
pengajar menjelaskan segala sesuatu, menulis segala sesuatu dalam buku catatan,
memiliki buku teks sendiri, belajar membaca, menelaah tata bahasa, dan belajar
kata- kata Inggris dengan cara melihatnya.
Lebih lanjut
Nelson yang dikutip oleh Ali dan Asrori (2004:131) menyebutkan bahwa ada dua
tipe perkembangan anak dalam penguasaan bahasa, yaitu:
1. Anak
yang bertipe referensial, yang cenderung berpandangan bahwa sebagian bahasa
digunakan untuk membicarakan benda benda.
2. Anak
yang bertipe ekspresif cenderung berpandangan bahwa sebagian besar bahasa
digunakan untuk membicarakan dirinya dan orang lain sekaligus untuk
mengekspresikan perasaan, kebutuhan, dan kondisi sosial lainnya.
B. Gaya
Kognitif Siswa
Menurut Puji
Astuti (1990:203-204) gaya kognitif adalah istilah untuk menunjuk sifat
seseorang dalam memahami, mengkonsep, mengorganisasi dan mengungkapkan
informasi. Adapun tipe- tipe gaya kognitif adalah:
1. Field dependent
Ciri- cirinya adalah personal
orientation, holistik, dan peka sosial. Tipe ini berhasil dalam aspek
komunikasi, menghendaki pembelajaran bahasa kedua dalan suasana alami, dan
mempumyai pola pikir induktif.
- Field independent
Ciri- cirinya impersonal
orientation, analitik, tidak bergantung, tidak peka sosial, (individualis).
Tipe ini erat hubungannya dengan kelas yang analitis, dan banyak latihan, mampu
menjawab pertanyaan bacaan ekstensif cocok untuk tipe ini dalam
pembelajaran bahasa kedua.
C. Sikap
belajar siswa
Menurut Curran
dan Bruner sebagaimana dikutip oleh Arsyad (2003:31- 32) bahwa sikap belajar
siswa terbagi dua yaitu: defensif dan reseptif.
1. Sikap
belajar defensif cenderung untuk menganggap bahasa asing sebagai rangkaian
bunyi, kata, aturan atau pola yang harus secara paksa dipindahkan dari guru
atau buku teks ke otak. Akibatnya bahasa dianggap suatu beban.
2. Sikap
belajar reseptif mirip dengan apa yang terjadi bila bibit atau benih,
ditaburkan di atas tanah yang subur, tak berbatu, bebas dari rumput liar.
Menumbuhkan
sikap reseptif ini dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran yang
menyenangkan dan bervariasi serta sesuai dengan kebutuhan siswa (berorientasi
kepada siswa). Kalau diibaratkan belajar seperti ini adalah seperti orang yang
bermain bola kaki, letih tetapi menyenangkan.
D. Modalitas
belajar
Modalitas
belajar siswa menurut Bobbi De Porter yang dikutip oleh Munir (2006: 30-33) ada
tiga tipe, yaitu: visual, auditorial dan kinestetik.
1. Kecenderungan
tipe visual diantaranya adalah: berbicara dengan cepat, pengeja yang baik dan
dapat melihat kata-kata yang sebenarnya dalam pikiran mereka, mengingat apa
yang dilihat daripada yang didengar, Mempunyai masalah untuk mengingat
instruksi verbal kecuali bila ditulis dan seringkali minta bantuan orang untuk
mengulanginya, lebih suka membaca daripada dibacakan, sering menjawab
pertanyaan dengan singkat, ya atau tidak, lebih suka melakukan demonstrasi
daripada berpidato, dan lebih suka seni daripada musik, kadang- kadang
kehilangan konsentrasi ketika ingin memperhatikan.
2. Kecenderungan
tipe auditorial diantaranya adalah: berbicara pada dirinya sendiri ketika
melakukan aktifitas, mudah terganggu oleh keributan, menggerakkan bibir dan
mengucapkan tulisan di buku ketika membaca, senang membaca dengan keras dan
mendengar, biasanya seorang pembicara fasih, merasa kesulitan dalam menulis
tetapi hebat bercerita.
3. Kecenderungan
tipe kinstetik di antaranya adalah: berbicara dengan perlahan, selalu
berorientasi fisik dan banyak bergerak, belajar melalui manipulasi dan praktik,
menghafal dengan cara berjalan dan melihat, menggunakan jari sebagai
penunjuk ketika membaca, menggunakan kata- kata yang mengandung aksi.
Mengetahui
masing tipe diatas akan sangat membantu guru bahasa. Karena terkadang sikap apa
yang kita inginkan dari siswa, tenyata adalah refleksi dari tipe kita sendiri
yang belum tentu sesuai dengan tipe masing- masing siswa. Oleh karena itu perlakukanlah
siswa sesuai dengan tipenya masing- masing, karena itu adalah karunia Allah SWT
yang harus disyukuri dengan mengembangkannya, bukan dihilangkan.
E. Kepribadian
pembelajar
Kepribadian
siswa menurut Rossier yang dikutip oleh Pujiastuti (1990:203) dapat digolongkan
menjadi dua, yaitu extrovert dan introvert.
1. extrovert, yaitu
kepribadian yang terbuka dan lebih cepat menguasai bahasa kedua dari pada
yang introvert.
2. introvert, yaitu kepribadian yang
tertutup. Maka untuk membantu pembelajar ini agar lebih cepat menguasai bahasa
kedua adalah dengan membaca ekstensif.
Kepribadian
siswa yang berlainan ini harus dikelola sebaik mungkin, dan strategi ataupun
metode harus bervariasi disesuaikan dengan kepribadian masing- masing siswa.
F. Motivasi
siswa
Menurut
Nababan sebagaimana dikutip oleh Mu’in (2004:43) motifasi belajar bahasa asing
itu dikelompokkan kepada tiga bentuk, yaitu:
1. Motifasi
integratif, yaitu belajar bahasa karena ingin hidup di tengah- tengah
masyarakat pemilik bahasa itu.
2. Motifasi
instrumental, yaitu belajar bahasa karena ia sebagai alat untuk mencapai tujuan
lain seperti untuk mempelajari agama.
3. Identifikasi
kelompok sosial, yaitu belajar bahasa karena untuk berkomunikasi di dalam
masyarakat tertentu.
Motifasi yang
dimiliki oleh masing- masing siswa berbeda- beda, oleh karena itu identifikasi
berbagai motif tersebut dapat membantu guru dalam menetapkan tujuan ataupun
metode pembelajaran yang sesuai dengan keinginan siswa, bila ingin tujuan
pembelajaran tercapai.
Akhirnya,
dapatlah dimaklumi bahwa mengetahui aspek- aspek psikologis tersebut dapat
membantu para guru bahasa asing dalam mengajarkan bahasa. Karena, dalam
pembelajaran bahasa asing terkadang ditemui kendala-kendala yang berasal dari
aspek- aspek psikologis di atas.
*Guru bahasa Arab MTs Negeri1
Kabupaten Tebo dan Dosen IAI Tebo Jambi.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Mohammad
dan Mohammad Asrori. 2004. Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta
Didik. Jakarta: Bumi Aksara
Arsyad,
Azhar. 2003. Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya: Beberapa Pokok
Pikiran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Hamalik,
Oemar. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
Mu’n, Abdul.
2004. Analisis Kontrastif Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia: Telaah
Terhadap Fonetik dan Morfologi. Jakarta: PT. Pustaka Alhusna Baru
Munir.
2006. Perencanaan Sistem Pembelajaran Bahasa Arab: Teori dan
Praktek. Palembang: IAIN Raden Fatah Press
Pujiastuti,
Sri. 1990. Peranan Membaca Ekstensif Dalam Pemerolehan Bahasa Kedua. Dalam
Nurhadi dan Roekhan (ed.), Dimensi- Dimensi Dalam Belajar Bahasa
Kedua. Bandung: Sinar Baru
Tarigan,
Henry Guntur. 2006. Dasar-Dasar Kurikulum Bahasa. Bandung:
Angkasa